RENCANA DADAKAN DAN HARI PERTAMA

Selain perjalanan ke Garutnya, perencanaannya pun seru. Hari itu hari Sabtu, aku sedang di Rockstar menunggu kelas. Sambil menunggu aku menontak Aruna. Aruna menceritakan perjalanan yang akan dialaminya dengan kak Andro dan kak Liris. Tiba-tiba dia mengajakku. Dan ternyata jadwal keberangkatannya itu kurang dari satu minggu. Walaupun dadakan, aku tetap ikut! Bersama dengan kak Zaky, Fattah, dan Husayn.

Pukul 5 pagi aku sudah bangun, segera aku mandi dan sarapan. Pukul 6.15-nya aku, ibu, dan bapak sudah siap berangkat. Perjalanannya muter2 karena Pasar Senen kebakaran. Jadi kami baru sampai Stasiun Pasar Senen pukul 7.52. Disana kami bertemu dengan kak Zaky. Mengingat kalau kami naik kereta siang, aku dan Kak Zaky beli makan siang di warung dekat stasiun, untuk makan di kereta. Ketika kami balik, kami menunggu Husayn dan Fattah. Sekitar 15 menitan kami sudah lengkap. Kami pamit ke orangtua masing2 dan naik ke peron. Kereta kami adalah Serayu Pagi. Kursi kami ada di kereta paling ujung jadi kami harus jalan dulu. Pukul 9 pas, kereta sudah berangkat.

Di kereta bisa dibilang kami… berisik. Kami ketawa-ketiwi dan ngobrol tentang beberapa hal. Kami sampai di Stasiun Cibatu pukul 13.43, sesuai dengan yang ada di tiket. Ketika turun dari kereta, Fattah melakukan konfirmasi ke saudaranya, aku dan Husayn ke toilet, dan kak Zaky merekam suasana. Cibatu itu stasiun yang kecil dan lumayan sepi. Cibatu lokasinya pun bukan di pinggir jalan raya. Jadi kami harus jalan sebentar untuk sampai ke jalan raya. Kami jalan sebentar dan menunggu. Setelah bertemu dengan saudaranya Fattah kami langsung diantar ke Pesantren Ath-Thaariq. Dengan bantuan GPS google maps.

Foto: Zaky Mubarak

Ternyata saudara dan sepupunya Fattah belum makan! Begitu juga denganĀ Fattah dan Husayn, yang cuman membagi sedikit dari makananku dan kak Zaky. Jadi kami berhenti di sebuah restoran dan makan. Sebenarnya aku dan dan kak Zaky nggak makan karena sudah kenyang.

Foto: Zaky Mubarak

Kami sempat nyasar, karena kalau kami tanya orang. Nggak ada yang tahu pesantrennya dimana. Jadi kami didrop di universitas STKIP dan jalan ke Toko Restu. Dari situ kami nyasar sedikit lagi, sampai akhirnya ketemu dengan sawah dan pesantrennya.

Pesantren Ath-Thaariq adalah tempat kami akan menetap untuk 6 hari ini. ‘Kami’ adalah aku (Tata), Aruna, Kak Liris, Husayn, Kak Fattah, Kak Zaky, dan Kak Andro. Pesantren Ath-Thaariq berada di Garut, Jawa Barat. Rombongan Jogja, Aruna, Kak Liris dan Kak Andro, sudah sampai jam sejak sekitar pukul 9 pagi. Sedangkan rombongan jakarta, aku, Husayn, Fattah, dan Kak Zaky, sampai pada sekitar pukul 4 sore.

Di pesantren tersebut, ada rumah besar, yaitu rumahnya Ummi Nissa. Rumah itu berlantai dua. Lantai dua adalah tempat keluarga ummi tinggal. Kami para perempuan tidur di salah satu kamar di lantai bawah. Sedangkan laki-laki tidur di atas saung. Saungnya itu pas didepan rumah tersebut. Di keluarga ummi ada abi, Aa, Ceuceu, dan juga teteh Salwa.

Setelah istirahat sebentar, kami mencari dan memanen daun kunyit. Lalu daun kunyi tersebut dicuci dan dirajang kecil-kecil. Kami juga mencuci tahu dan juga menghancurkannya. Tahu dan daun lemon dicampur, juga dibumbui. Bumbu yang digunakan adalah garam herbal, lada, gula, jahe, bubuk kunyit, dan ketumbar. Tahu sudah siap dimasak.

Foto: Zaky Mubarak

Pukul 7 malam, aku, Aruna, dan Kak Andro main kartu. Tapi kami tidak main lama-lama, karena kami diajak untuk berkenalan dengan anak-anak pesantren. Selesai perkenalan, kami mulai makan malam bersama. Pukul 9 kami bikin logbook, aku juga baca buku sebentar. Dan akhirnya tidur.

Credit foto: Kak Zaky Mubarak

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *