Perjalanan Jogja, Semarang, Salatiga – Hari Pertama

Beberapa minggu yang lalu, ibu dan bapak menjelaskan bahwa kita akan jalan-jalan ke Jogja dan Jawa Tengah. Perjalanannya akan berlangsung relatif lama, sekitar 10 hari. Dan perjalanannya akan lebih ke sisi ‘menemani’ bapak dan ibu kerja.

Hari selasa (18/10/16) kemarin, kami bangun jam 4-an pagi dan memperiksa barang-barang yang kami sudah packing kemarin. Jam 5-nya, kami berangkat ke Stasiun Senen dengan mobil. Sampai di stasiun, bapak pergi mencetak tiket-tiket kami. Setelah bapak balik dari tempat pencetakan tiket, bapak meminta aku, kakak, dan Duta untuk mencetak tiket milik ibu yang belum bapak cetak. Aku membayangkan itu bakal rumit, ternyata sederhana. Setelah masuk dan menunggu sebentar di peron, kereta kami, yang bernama “Gajah Wong”, datang.

Kami naik ke gerbong nomor 2 yang ekonomi dan mencari kursi kami. Ketika kereta berangkat gerbong kami memiliki baaannnyyyaak sekali kursi kosong, rasanya seperti menyewa gerbong sendiri. Kereta kami berangkat dari jam 6:45 sampai 14:55 jadi kami menghabiskan 9 jam di kereta.

Bisa dibilang perjalanan lumayan membosankan di awal. Setelah berjalan sekitar satu jam, bolt tidak lagi bekerja, berarti nggak ada internet tanpa pulsa. Di kereta kami makan roti lapis coklat-keju yang dibikin eyang putri, makan keju yang sudah dipotong oleh ibu jadi ukuran dadu, tidur-tiduran (karena banyak kursi kosong :P), dan juga bermain tebak stasiun. Aku juga belajar cara beli kuota :P.

h1-keretaapi-1

Kita sampai di Stasiun Tugu jam 3, kata ibu kita harus cepat turun, karena masih ada satu stasiun lagi yang akan dilewati Gajah Wong. Jadi Gajah Wong sepertinya akan berhenti di Stasiun Lempuyangan (juga di Jogja). Duta sudah mengeluh lapar jadi kita beli ayam sebentar untuknya. Aku, ibu, bapak, dan kakak makan di restoran padang dekat stasiun Tugu.

Setelah makan, kami hendak melanjutkan perjalanan kami. Tujuan kami selanjutnya adalah ke Sanggar Anak Alam, atau disingkat Salam. Jarak dari tempat kami sekarang ke Salam 5 kilo. Karena jaraknya sama dengan jalan pagi yang biasa dilakukan, kami memutuskan untuk jalan. Tetapi ternyata matahari menyengat dan karena beban barang yang banyak, rasanya jaauuuuh sekali. Dimana lagi Duta mulai mengeluh, jadi aku, ibu, dan Duta ke Salam naik becak.

Salam itu tempat yang kelihatan ajaib. Ada rumah di tengah-tengah sawah yang menanam padi yang masih hijau. Kami menuju kedalam salah satu dari beberapa rumah yang ada, di sana ibu dan bapak melakukan rapat. Semua orang capek setelah 9 jam perjalanan kereta dan sekitar sejam jalan dengan beban yang tidak enteng. Seorang pria mengantar aku, kakak, ibu, dan Duta ke homestay Nitiprayan (bapak masih ikut rapat).

Di sana kami menyewa satu kamar yang memiliki satu tempat tidur. Karena kami berlima, kami juga menyewa tempat tidur tambahan. Kami menyimpan tas-tas kami dan ibu balik ke Salam. Kakak di berikan uang dan kakak pergi cari makan. Ketika kakak di luar cari makanan, aku dan Duta mandi dan ganti baju tidur. Kakak balik membawa nasi kucing untuk makan malam kami. Kami bertiga main game sebentar dan langsung tidur.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *